Mass Transit System di Jakarta.
Monorail rupanya menjadi pilihan utk menjadi Mass Transit System di Jakarta. Malah sudah terlihat pelar-pilar besi beton yang belum rampung. Bayangkan sepanjang 14.6 kilometer akan berjejer pilar-pilar besibeton puluhan atau ratusan. Tentu tidak akan membuat enak dilihat mata, apalagi kalau pilar-pilar penuh dengan graffiti. Kalau semua pilar-pilar ini dicat hijau, itu lain lagi. Mungkin ini yang dimasud Pemda Ibu Kota dengan "penghijaun kota". Apalagi setiap pilar itu dikelilingi dengan pot kembang tergantung. Jadi kemungkinan besar untuk meng-camouflage pilar-pilar ini, merupakan ongkos dluar ongkos monorail yang sejumlah USD 650 Juta itu. Karena "monorail" yang dijalankan berdasarkan System Malev ( magnit) akan mahal.
Kota Seatlle, yang mempromosikan "Monorail" ternyata pada Nov.2005 penduduknya memberikan suaranya yang mengagalkan rencana ini. Diperkirakan akan memakan ongkos USD 100 juta per satu mile. Kemudian diperhitungkan kembali menurun menjadi USD 87 Juta per mile.
Di Las Vegas, yang panjangnya 6.3 kilometer dan dibangun 7 stasion memakan ongkos USD 650 Juta. Setelah pembukaan, kemudian tidak jalan selama 6 bulan karena ada kesulitan-kesulitan pengoperasiannya.( ada alat-alatnya berjatuhan.....percaya tidak, padahal ini di Negara Kecap nomor satu).. Dan juga Monorail di Las Vegas ini, bukannya Mass Transit System tulen. Ini hanya sebagai usaha marketing saja. Mengangkut turis-turis dari satu Casino ke Casino lainnya.
Diberitakan ongkos pembangunan Monorail di Jakarta akan memakan ongkos USD 43 Juta per kilometer. Kalau di permilenya hampir mendekati ongkos di Seattle.
Dengan ongkos sebesar itu, pembangunan Monorail hanya hanya dipakai untuk keperluan Monorail saja. Tidak ada kegunaannya lainnya. Kecuali kalau umpamanya, dibawah bangunan monorail ini dibangunkan Rumah Murah Sekali, bergelantungan sepanjang 14.6 kilometer. Apa ini dapat dikatakan sebagai usaha menanggulangi banjir di Ibu Kota ?
Kalau dikatakan monorail ini sangat besar ongkos membangunnya, setelah jadi, pilar-pilar itu merusak pemandangan, malah kemungkinan akan menjadi sasaran anak-anak tanggung digambari graffiti. Kemudian kalau diputuskan tidak akan dibangun, tapi Ibu Kota memerlukan sekali System Mass Transit.
Ada Bus Way, yah dapat saja Bus Way dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mengangkut penumpang lebih banyak. Jumlah Bus-busnya ditambah. Sehingga kedatangan/keberangkatan dari station Bus bisa lebih sering . Atau dua Bus disambung menjadi satu, ditempat sambungan dipasang penutup badan bus dari karet sehingga dapat bergerak seperti cacing kepanasan. Atau dipasang rel ketiga ditengah-tengah jalanan Bus Way, agar Bus cacing kepanasan ini tidak keluar dari jalurnya. Juga rel ketiga ini dapat digunakan untuk menaikkan kecepatan Bus lebih tinggi lagi namun keselamatan terjaga. Keuntungan lain, Bus Cacing Kepanasan ini hanya dipasang dengan satu mesin penggerak. Irit menghemat bahan bakar Apalagi mesinnya yang sekarang memakai bahan bakar Gas, diganti dengan Diesel Electric memakai bahan bakar Bio -Diesl. Irit, murah ( bagi negara menurunkan subsisi BBM), ramah lingkungan. Apakah akan mengurangi polusi, masih merupakan tanda tanya. Kalau satu Bus dengan Diesel Electric beroperasi di jalanan, dengan DP yang murah utk speda-motor, mungkin puluhan speda motor bertambah di jalanan, yah sami mawon..
Jadi Ibu Kota harus mempunyai Mass Transit System yang murah, cepat dan memuat banyak penumpang. Kalau sudah ada pilihan yang dijadikan MTS di Ibu Kota, harus dipikirkan di stasiun=stasiun harus ada tempat utk penitipan speda motor. Menitipkannya speda motor di Stasiun ini harus bayar. Besarnya ongkos penitipan paling tidak, sama atau lebih mahal daripada ongkos angkot,bajay, ojek atau bus khusus dari permukiman langsung ke stasiun ini. Singga kalau dihitung-hitung akan lebih murah kalau speda motornya disimpan dirumah. Berarti mengurangi padatnya lalu lintas dan akan mengurangi polusi udara. Tapi melihat ongkos yang besar dalam pembangunan Monorail, pilihan ini akan memberatkan Negara,Pemda dan penumpang (karcis mahal). Sekarang saja sudah ada suara-suara utk menaikkan ongkos Bus Way.
New York City yang terkenal dengan MST-nya dalam tanah dan Bus, penghasilan dari karcis yang dapat menutupi obgkos pengoperasian hanya mencapai 65 % saja. Dan angka ini adalah yang tertinggi dibandingkan dengan Metro di Paris, Metro di Mexico City dan MTS di kota-kota lainnya. Nah kalau di kita, MTS ini dianggap rugi, penjualan karcis tidak memadai ongkos pengoperasiannya,... yah itu adalah wajar= wajar saja, memang begitulah keadaannya kalau berusaha dalam Tarnsportasi Penduduk Kota. Dimanapun dikota-kota besar didunia, Pemerintah mengulurkan tangan dalam ongkos pengoperasianya, berupa subsidi.
Karena Pemerintah turut campur dalam pembiayaan pengeoperasian MSR, jadi Pemerintah harus memberikan petunjuk bahwa pebangunan MST, harus ada dampaknya yang positip kepada lengkungan alam ataupun menaikkan tingkat kehidupan penduduk kota itu.
Ada Mass Trasit System yang pernah di kemukakan sebagai satu jalan MST di Jakarta ialah MST Dalam Tanah. Namun dengan argumentasi bahwa Jakarta ini rawan banjir, MSTDT (Mass Transit System Dalam Tanah) tidak mungkin untuk ditrapkan. Ada betulnya juga argumentasi itu.
Namun kalau ada pemikiran, membangun MSTDL kemudian sekali gus menanggulangi banjir, apakah Pemerintah Daerah/Pusat/Kota akan membangunnnya ? Tentunya ongkos tidak akan murah. Baiklah kita ambil ongkos monorail sejumlah USD 650 Juta untuk pembangunan MTSDT. Kalau Pemda Banten dan Lampung sanggup mencari Dana sejumlah USD 10 Billions, ongkos MRSDT ini kurang dari sepersepuluh ongkos Pembangunan JSS. Dan bermanfaat untuk rakyat kecil yang tidak mempunyai kendaraan spedah motor apalagi mobil. (Lewat JSS jalan kaki sambil membawa pikulan, atau menggenjot speda penuh dengan barang dagangan ??)
Bagaimana kalau Pemda DKI meminta pertolongan Menristek, Bappenas serta Perguruan Tinggi untuk merancang Mass Transit System dengan pensyaratan sbb:
1. Mass Transit System Dalam Tanah.
2. System ini juga dapat mencegah banjir
3.Tenaga penggerak gerbong: listrik, Diesel-Electric atau Malev (Magnit), diutamakan yang paling murah, irit bahanbakar, serta gampang dalam usaha pemeliharaanya .
MangSi yang tahunya hanya melukis cat air, mengkhayal, bercerita dan bersajak, mempunyai jawabannya sbb:
1. Dimulai dari Kebayoran Blok M ke Monas. Penggalian terowongan dimulai dari Banjir Kanal ke arah Kebayoran dan yang satunya kearah Monas. Dengan begini menggampangkan pembuangan tanah galian. Ditampung didalam tongkang. Tongkang-tongkang dibuat dan di"las" dekat Banjir Kanal. Tanah ini diangkut dan dipakai untuk ditimbun didaerah-daerah yang rendah atau meninggikan tanggul=tanggul di Banjir Kanal.
2. Didalam terowongan dibangun tabung dari besi beton yang dibuat di tempat. Tabung ini dibuat dua tabung ditumpuk dari atas ke bawah. Cement dan besibeton dan pasir diambil dari tongkang-tongkang di Banjir Kanal. Air tersedia berlimpah-limpah.
3. Tabung yang atas dipakai untuk jalanan MTSDT, tabung dibawahnya, yang sama ukurannya atau kebih besar lagi, dibiarkan kosong. Tabung dibawah itu akan dipakai sebagai tempat penyimpanan air hujan. Pengisian Reservoir ini ialah dengan air hujan, melalui sistim riool (sewer system ) sepanjang MSTDT dari Kebayoran ke Monas. Tabung diatasnya dapat dipakai sebagai tabung tambahan reservoir air hujan. Kalau turunnya hujan melebihi dari kebiasaan. Tentunya kegiatan MSTDT dihentikan sampai air surut. Pembuangan air hujan yang ditampung dibuang ke Banjir Kanal sampai mencapai ketinggian tertentu di Main Reservoir.
4. Air hujan yang ditampung di Main Reservoir, diolah menjadi air minum. Kalau Israel dan Saudi Arabia dapat mengolah air minum dari air laut, tentunya pengolahan air hujan akan lebih murah ongkosnya. Pabrik pengolahan air hujan ini dibangun sebagai pabrik terapung di Banjir Kanal.
5. Mengingat Tabung yang diatas selain dipakai untuk MSTDT, juga sewaktu-waktu dipakai sebagai Reservoir tambahan, dengan sendirinya, segala peralatan yang dipakai oleh MTSDT ini harus anti air.Third Rail seperti Subway system di NYC ( yang dipakai utk aliran listrik tegangan tinggi), tak dapat dipakai. Mungkin kabel listrik diatas yang dipasang dilangit-langit tabung, masih ada kemungkinanuntuk dipakai. Jadi seperti Trem di Jakarta tempo doeloe. Tetapi rel besi, lama lama akan berkarat, pemeliharaannya akan menjadi mahal.
6.Mungkin yang praktis dan murah adalah gerbong-gerbong memakai ban karet mati ( seperti forklift), tentu gerbong-gerbong ini dilengkapi dengan "Shock absorber" agar perjalanannya lancar dan rapih.Dengan memakai rel ketiga dibuat dari beton dipasang ditengah-tengah jalur. Roda karet mati dipasang horisontal. Ini perlu agar gerbong-gerbong itu tidak menyinggung dinding tabung. Tenaga penggeraknya, Electric Diesel atau Full Electric ( Batteries). Kalau Diesel Electric sepanjang jalan diatas Tabung ini ditanami Pohon Palm atau Pohon Aren. Diantara pohon-pohon dipasang pohon tiruan yang dipakai sebagai ventilasi. Dipucuk pohon dipasang Electric Exhaust Fan dengan tenaga Surya.Kalau Full Electric, Batteries-nya diisi dengan listrik kalau gerbong-gerbong tidak beroperasi.
Kalau Jembatan Selat Sunda yang diperkirakan akan memakan ongkos Rp 91 trilyun disokong oleh Wapres, masa iya ini proyek sepersepuluhnya dari ongkos JSS plus banyak manfaatnya bagi rakyat kecil. Juga demi Ibu Kota Republik, masa iya tak disokong. Nah kalau disokong Wapres, dan proyek MSTDT ini kemudian menjadi kenyataan, siapa tahu suara rakyat Ibu Kota separohnya saja dari sejumlah 8 juta dapat dikantongi Wapres, kalau bercita-cita mau menjadi Pres. sudah ada simpanan. Kan sekarang sudah mulai keliling bersilahturahmi kedaerah-daerah, yah diteruskan saja.
singgihnatanyc10/2/07